Kamis, 05 Oktober 2017

Makalah Teori Gujarat

BAB I
PEMBAHASAN
A.    Latar Belakang
Indonesia adalah Negara di Asia Tenggara ini disebut sebagai tanah dengan populasi Muslim tertinggi. Persentase Muslim Indonesia mencapai hingga 12,7 persen dari populasi dunia. Dari 205 juta penduduk Indonesia, dilaporkan sedikitnya 88,1 persen beragama Islam.
Indonesia menempati urutan nomer pertama dari sekian banyak negara Islam di dunia dengan populasi muslim terbesar, padahal Indonesia bukanlah Negara berbasis Islam. Urutan kedua adalah; Pakistan, India, Bangladesh, Mesir, Nigeria, Iran, Turki, Algeria, dan urutan kesepuluh adalah Maroko.[1]
Perkembangan Islam di Indonesia yang begitu pesat tidak bisa lepas dari catatan sejarah. Sejarah telah memotret dan merekam semua yang telah terjadi di masa silam.
Proses-proses dan alur historis yang terjadi dalam perjalanan Islam di Indonesia dalam hubungannya dengan perkembangan Islam di Timur Tengah, bisa dilacak sejak masa-masa awal kedatangan dan penyebaran Islam di Indonesia sampai kurun waktu yang demikian panjang. Yaitu sejak terjadinya interaksi kaum Muslim Timur Tengah.[2]
Untuk mengungkap historis awal kedatangan Islam di Indonesia, terdapat diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai 3 masalah pokok; tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Ada 3 teori yang dipakai teori Gujarat, teori Persia, dan teori Arabia.
3 teori yang saling mengunggulkan pada masing-masing teori. Prof Azumardi Azra dalam bukunya yang berjudul “Jaringan Ulama’ Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII”berpendapat: berbagai teori dan pembahasan yang berusaha menjawab ketiga masalah pokok di atas jelas belum tuntas, tidak karena kurangnya data yang dapat mendukung suatu teori yang ada.
Dari latar belakang yang ada, pemakalah berusaha me-narjih salah satu dari ketiga teori tersebut, mana yang lebih unggul dari yang lainnya.

B.     Rumusan Masalah
1.                  Bagaimana Penjelasan Teori Gujarat?

BAB II
PEMBAHASAN
Teori Kedatangan Islam di Indonesia
Menurut Sulasman dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Islam di Asia dan Eropa” beliau mengutip pendapatnya Ahmad Mansur Suryanegara dalam buku yang berjudul “Menemukan Sejarah”, beliau berpendapat: “Ada 3 teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Indonesia.”[3]
Azyumardi turut berpendapat: “Terkait kedatangan Islam di Nusantara, terdapat diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai tiga masalah pokok; tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. berbagai teori dan pembahasan yang berusaha menjawab ketiga masalah pokok di atas jelas belum tuntas, tidak karena kurangnya data yang dapat mendukung suatu teori yang ada. (Karena) terdapat kecenderungan kuat, suatu teori tertentu menekankan hanya aspek-aspek khusus dari ketiga masalah pokok di atas, sementara mengabaikan aspek-aspek yang lainnya.”[4]

A.  Teori Gujarat
Sejumlah sarjana, kebanyakan asal Belanda, memegang teori bahwa asal mula Islam Nusantara adalah Anak Benua India, bukannya Persia atau Arabia. (Menurut Azyumardi Azra), Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah Pijnapple, ahli dari Universitas Leiden. Dia mengkaitkan asal mula Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar. Menurut dia, adalah orang-orang Arab bermadzhab Syafi’i yang bermigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara.[5] Teori ini kemudian dikembangkan Snouck Hurgronje.[6]
Snouck Hurgronje mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah yang terdapat di anak Benua India. Tempat-tempat, seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar disebut-sebut sebagai asal masuknya Islam ke Indonesia. Teori tersebut berdasarkan pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yaitu pada abad ke-12 atau 13 M. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan adanya hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah Indonesia dengan daratan India.[7]
Moquette, seorang sarjana Belanda lainnya, berkesimpulan bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat. Ia mendasarkan kesimpulan ini setelah mengamati bentuk batu nisan di Pasai, kawasan utara Sumatra, khususnya yang bertanggal 17 Zulhijjah 831 H/27 September 1428. Batu nisan yang kelihatannya mirip dengan batu nisan lain yang ditemukan di makam Maulana Malik Ibrahim (w. 822 H/1419 M) di Gresik, Jawa Timur, ternyata sama bentuknya dengan batu nisan di Gujarat dihasilkan bukan hanya untuk pasar local, tetapi juga untuk diimpor ke kawasan lain, termasuk Sumatra dan Jawa. Selanjutnya dengan meng-impor batu nisan dari Gujarat, orang-orang Nusantara juga mengambil Islam dari sana.[8]
Kesimpulan-kesimpulan Moquette ini ditentang keras oleh Fatimi yang berargumen bahwa keliru mengaitkan seluruh batu nisan di Pasai, termasuk batu nisan Malik Al Shalih dengan butu nisan di Gujarat. Menurut penelitiannya, bentuk dan gaya batu nisan Malik Al Shalih berbeda sepenuhnya dengan batu nisan yang terdapat di Gujarat dan batu-batu nisan lainnya yang ditemukan di Nusantara. Fatimi berpendapat, bentuk dan gaya batu nisan ini justru mirip dengan batu nisan yang terdapat di Bengal. Karena itu, seluruh batu nisan itu pastilah di datangkan dari daerah itu. Ini menjadi alasan utamanya untuk menyimpulkan, bahwa asal Islam yang datang ke Nusantara adalah wilayah Bengal. Dalam kaitannya dengan “teori batu nisan” ini, Fatimi mengkritik para ahli yang kelihatannya mengabaikan batu nisan Siti Fatimah (bertahun 475 H/1082 M) yang ditemukan di Leran, Jawa Timur.[9]
Dan ternyata teori Fatimi yang dikemukakan dengan begitu semangat gagal meruntuhkan teori Moquette, karena sejumlah sarjana lain telah mengambil alih kesimpulannya, dan yang paling terkenal di antara mereka adalah: Kern, Winstedt, Bousquet, Vlekke, Gonda, Schrike, dan Hall. Sebagian mereka memberikan argument tambahan untuk mendukung kesimpulan Moqquette. Winstedt, misalnya, mengemukakan tentang penemuan batu nisan yang mirip bentuk dan gayanya di Bruas, pusat sebuah kerajaan kuno Melayu di Perak, Semenanjung Malaya. Ia berhujjah, karena seluruh batu nisan di Bruas, Pasai, dan Gresik didatangkan dari Gujarat, maka Islam juga pastilah diimpor dari sana.[10]
Teori yang berhujah menggunakan teori batu nisan dibantah oleh Marrison. Marrison mematahkan teori ini dengan menunjuk kepada kenyataan bahwa pada masa islamisasi Samudra Pasai, yang raja pertamanya wafat pada 698 H/1297 M, Gujarat masih merupakan Kerajaan Hindu. Barulah setahun kemudian (699 H/1298 M), Cambay, Gujarat ditaklukkan kekuasaan Muslim. Jika Gujarat adalah pusat Islam, yang dari tempat itu para penyebar Islam datang ke Nusantara, maka Islam pastilah telah mapan dan berkembang di Gujarat sebelum kematian Malik Al Shalih, tegasnya sebelum 698 H/1297 M.[11]
Marrison mengemukakan teorinya bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari Gujarat, melainkan dibawa para penyebar Muslim dari pantai Coromandel pada akhir abad ke-13.[12]
Menurut Azyumardi Azra, Marrison mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Arnold. Bahwa dia (Arnold) berpendapat, bahwa Islam dibawa ke Nusantara antara lain juga dari Coromandel dan Malabar. Ia menyokong teori ini dengan menunjukkan kepada persamaan madzhab fikih di antara ke dua wilayah tersebut. Mayoritas Muslim di Nusantara adalah pengikut madzhab Syafi’i, yang cukup dominan di wilayah Coromendel dan Malabar, seperti yang disaksikan oleh para ‘Ibnu Bathuthah ketika ia mengunjungi kawasan ini.[13]
Arnold berpendapat, Coromandel dan Malabar bukan satu-satunya tempat asal Islam dibawa, tetapi juga di Arabia. Dalam pandangannya, para pedagang Arab juga menyebarkan Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijriah atau abad ke-7 dan 8 Masehi.[14] Pemakalah bisa menyimpulkan bahwa Arnold mendukung teori Arabia.

Teori Gujarat berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pd awal abad 13 M & pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar teori ini adl :
  1. Kurangnya fakta yg menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebarannya ke Indonesia.
  2. Hubungan dagang Indonesia dgn India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay – Timur tengah – Eropa.
  3. Adanya batu nisan Sultan Samudera Pasai yaitu Malik al Saleh tahun 1297 yg bercorak khas Gujarat.
Pendukung teori Gujarat adl Snouck Hurgronye, WF Stutterheim, & Bernard HM Vlekke. Para ahli yg mendukung teori Gujarat, lbh memusatkan perhatiannya pd saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya Kerajaan Samudera Pasai. Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venezia (Italia) yg pernah singgah di Perlak (Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah byk penduduk yg memeluk Islam & byk pedagang Islam dari India yg menyebarkan ajaran Islam.

Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini terletak di India bagain barat, berdekaran dengan Laut Arab. Tokoh yang menyosialisasikan teori ini kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke
7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam telah lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orang-orang Gujarat telah lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar “sayid” atau “syarif ” di di depan namanya.
Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta(1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia.










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

1.      Teori untuk mengungkap awal mula masuknya Islam di Indonesia ada 3:
a.       Teori Gujarat: asal mula IslamIndonesia adalah Anak Benua India.
b.      Teori Persia: asal mula Islam Indonesia adalah Tanah Persia
c.       Teori Arabia: asal mula Islam Indonesia adalah Makkah dan Madinah.

Teori Gujarat berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pd awal abad 13 M & pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar teori ini adl :
  1. Kurangnya fakta yg menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebarannya ke Indonesia.
  2. Hubungan dagang Indonesia dgn India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay – Timur tengah – Eropa.
  3. Adanya batu nisan Sultan Samudera Pasai yaitu Malik al Saleh tahun 1297 yg bercorak khas Gujarat.

B.     Saran
Semoga dalam makalah ini kita bisa mengetahui tentang Teori masuknya Islam ke Indonesia khususnya teori Gujarat, saran dan kritik dari para pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.










DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama’ Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII, (Jakarta: Kencana, 2013)
Sulasman, Sejarah Islam di Asa & Eropa, (Bandung: Pustaka Setia, 2013)
http://www.republika.co.id, Senin, 28 September 2015 Pukul; 6:41




Makalah Tasawuf

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam sebagaimana dijumpai dalam sejarah, ternyata tidak sesempit seperti yang dipahami oleh masyarakat Islam sendiri pada umumnya. Dalam sejarah terlihat bahwa Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah dapat berhubungan dengan pertumbuhan masyarakat luas. Dari persentuhan tersebut lahirlah berbagai disiplin ilmu keislaman, salah satunya adalah tasawuf.
Bagi umat Islam umumnya dan kaum cendekiawan khususnya, adalah panggilan sejarah untuk terus mengembangkan dan menggali warisan intelektual mereka.

B. Batasan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka muncul tugas penulis untuk menjelaskan lebih jauh tentang ilmu tasawuf.
Karenanya penulis memberikan batasan masalah atas perincian bab, yakni:
1.    Apa pengertian tasawuf ?
2.    Bagaimana asal-usul perkembangan tasawuf ?









BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN TASAWUF
Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti bersih. Dinamakan shufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya. Teori lain mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata Shuffah yang berarti serambi Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Mereka disebut ahl as-shuffah yang sungguh pun miskin namun berhati mulia dan memang sifat tidak mementingkan kepentingan dunia dan berhati mulia adalah sifat-sifat kaum sufi/ teori lainnya menegaskan bahwa kata sufi diambil dari kata suf yaitu kain yang dibuat dari bulu atau wool, dan kaum sufi memilih memakai wool yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.
Dari berbagai teori di atas, tampak bisa dipahami bahwa sufi dapat dihubungkan dengan dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan bathiniyah. Teori yang menghubungkan orang yang menjalani kehidupan tasawuf dengan orang yang berada di serambi masjid dan bulu domba merupakan tinjauan aspek lahiriyah dari shufi. Ia dianggap sebagai orang yang telah meninggalkan dunia dan hasrat jasmani, dan menggunakan benda-benda di dunia hanya untuk sekedar menghindarkan diri dari kepanasan, kedinginan dan kelaparan. Sedangkan teori yang melihat sufi sebagai orang yang mendapat keistimewaan di hadapan Tuhan nampak lebih memberatkan pada aspek bathiniyah.
Tasawuf sebagaimana disebutkan dalam artinya di atas bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan, dan intisari dari sufisme itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad atau menyatu dengan Tuhan.
Dalam ajaran tasawuf, seorang sufi tidak begitu saja dapat berada dekat dengan Tuhan, melainkan terlebih dahulu ia harus menempuh latihan tertentu. Ia misalnya harus menempuh beberapa maqam (stasiun), yaitu disiplin kerohanian yang ditujukan oleh seorang calon sufi dalam bentuk berbagai pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu.
Mengenai jumlah maqamat yang harus ditempuh oleh para sufi berbeda-beda sesuai dengan pengalaman pribadi yang bersangkutan. Abu Bakar Muhammad al-Kalabadzi misalnya, mengemukakan beberapa mawamat, yaitu : taubat, zuhud, sabar, al-faqr, al-tawadlu’, taqwa, tawakkal, al-ridla, al-mahabbah, al-ma’rifat dan kerelaan hati.

B. ASAL-USUL TASAWUF
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar yang masuk ke dalam Islam. Sebagian penulis misalnya ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kebiasaan rahib-rahib Kristen yang menjauhi dunia dan kesenangan material. Ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf timbul atas pengaruh ajaran Hindu dan disebutkan pula bahwa ajaran tasawuf berasal dari filsafat Phytagoras dengan ajaran-ajarannya yang meninggalkan kehidupan material dan memasuki kehidupan kontemplasi. Dikatakan pula bahwa tasawuf masuk ke dalam Islam karena pengaruh filsafat Plotinus. Disebutkan bahwa menurut filsafat emanasi Plotinus bahwa roh memancar dari zat Tuhan dan kemudian akan kembali kepada-Nya. Tetapi dengan masuknya roh ke alam materi, ia menjadi kotor, dan untuk dapat kembali ke tempat Yang Maha Suci, terlebih dahulu ia harus disucikan. Tuhan Maha Suci dan Yang Maha Suci tidak dapat didekati kecuali oleh yang suci, dan pensucian roh ini terjadi dengan meninggalkan hidup kematerian, dan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin dan kalau bisa hendaknya bersatu dengan Tuhan semasih berada dalam hidup ini.
Namun demikian, terlepas atau tidak adanya pengaruh dari luar itu, yang jelas bahwa dalam sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan hadits terdapat ajaran yang dapat membawa kepada timbulnya tasawuf. Paham bahwa Tuhan dekat dengan manusia, yang merupakan ajaran dalam mistisisme ternyata ada di dalam Al-Qur’an dan hadits.
Ayat 186 Surat Al-Baqarah misalnya menyatakan :

#sŒÎ)ur y7s9r'y ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% ( Ü=Å_é& nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( (#qç6ÉftGó¡uŠù=sù Í< (#qãZÏB÷sãø9ur Î1 öNßg¯=yès9 šcrßä©ötƒ ÇÊÑÏÈ  
186. dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Kata دعا yang terdapat dalam ayat di atas oleh sufi diartikan bukan berdoa dalam arti yang lazim dipakai, melainkan dengan arti berseru atau memanggil. Tuhan mereka panggil dan Tuhan memperhatikan diri-Nya kepada mereka.
Ayat 115 juga Surat Al-Baqarah juga menyatakan :

¬!ur ä-̍ô±pRùQ$# Ü>̍øópRùQ$#ur 4 $yJuZ÷ƒr'sù (#q9uqè? §NsVsù çmô_ur «!$# 4 žcÎ) ©!$# ììźur ÒOŠÎ=tæ ÇÊÊÎÈ  
115. dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[83]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui.
Bagi kaum sufi ayat ini mengandung arti bahwa di mana saja Tuhan ada dan dapat dijumpai.
Selanjutnya dalam hadits dinyatakan :
مَنْ عَرَ فَ نـَفْسَهُ فَقَدْ عَرَف َالله
“Siapa yang kenal pada dirinya, pasti kenal kepada Tuhan”
Hadits lain juga mempunyai pengaruh kepada timbulnya paham tasawuf adalah hadits qudsi yang artinya :
“Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin kenal, maka Kuciptakanlah makhluk dan mereka pun kenal pada-Ku melalui diri-Ku”
Menurut hadits ini, bahwa Tuhan dapat dikenal melalui makhluk-Nya, dan pengetahuan yang lebih tinggi ialah mengetahui Tuhan melalui diri-Nya.
Tahanuts yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di Gua Hira merupakan cahaya pertama dan utama bagi nur tasawuf, karena itulah benih pertama bagi kehidupan rohaniah. Di dalam mengingat Allah serta memuja-Nya di Gua Hira, putuslah ingatan dan tali rasa beliau dengan segala makhluk lainnya. Di situ pula berawalnya Nabi Muhammad mendapat hidayah, membersihkan diri dan mensucikan jiwa dari noda-noda penyakit yang menghinggapi sukma, bahkan sewaktu itu pulalah berpuncaknya kebesaran, kesempurnaan, dan kemuliaan jiwa Muhammad Saw. dan membedakan beliau dari kebiasaan hidup manusia biasa.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa selama hayatnya, segenap peri kehidupan beliau menjadi tumpuan masyarakat, karena segala sifat terpuji terhimpun pada dirinya, bahkan beliau merupakan lautan budi yang tidak pernah kering airnya kendatipun diminum oleh semua makhluk yang memerlukan air. Amal ibadah beliau tiada tara bandingannya. Dalam sehari semalam Rasulullah minimal membaca istighfar minimal 70 kali, shalat fardhu, rawatib serta shalat dhuha yang tidak kurang dari delapan rakaat setiap hari. Shalat tahajjud beliau tidak lebih dari sebelas rakaat, dan lama sujudnya sama dengan lamanya sahabat membaca lima puluh ayat. Shalat beliau yang khusuk dan tuma’ninah amat sempurna. Dalam berdoa, perasaan khauf dan raja’ selalu dinampakkan Rasulullah dengan tangis dan sedu sedannya.
Masih banyak lagi amalan Rasulullah yang menunjukkan ketasawufannya. Apa yang dikemukakan di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa amalan tasawuf ternyata sudah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw.
Pola hidup dan kehidupan Rasulullah yang sangat ideal itu menjadi suri tauladan bagi para sahabatnya, baik bagi sahabat dekat maupun sahabat yang jauh. Tumpuan perhatian mereka senantiasa ditujukan untuk mengetahui segala sifat, sikap dan tindakan Rasulullah, sehingga para sahabat tersebut dapat pula memantulkan cahaya yang mereka terima kepada orang yang ada di sekitarnya dan generasi selanjutnya. Amalan tasawuf sebagaimana dipraktekkan oleh Rasulullah itu juga diikuti oleh para sahabatnya.
Abu Bakar Ash-Shiddieq misalnya, pernah hidup dengan sehelai kain saja.  Dalam beribadat kepada Allah Swt. karena khusu dan tawadhu’nya sampai dari mulutnya tercium bau limpanya, karena terbakar oleh rasa takut kepada Allah. Pada malam hari ia beribadat dengan membaca Al-Qur’an sepanjang malam.
Umar bin Khattab dikenal dengan keadilan dan amanahnya yang luar biasa. Ia pernah berpidato di hadapan orang banyak, sedangkan di dalam pakaiannya terdapat dua belas tambalan dan dia tidak memiliki kain yang lainnya.
Usman bin Affan dikenal sebagai orang yang tekun beribadah dan pemalu, dan meskipun ia juga dikenal sebagai seorang sahabat yang tekun mencari rezeki, tetapi iapun terkenal sebagai pemurah, sehingga tidak sedikit kekayaannya digunakan untuk menolong perjuangan Islam.
Sahabat selanjutnya adalah Ali bin Abi Thalib yang tidak peduli terhadap pakaiannya yang robek dan menjahitnya sendiri.
Beberapa tokoh besar dalam sufi adalah : Rabi’ah al-Adawiyah, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husein bin Mansur al-Hajjaj, dan Al-Ghazali.
Demikian fakta sejarah berbicara tentang kehidupan yang dipraktekkan oleh orang-orang yang bertasawuf, meninggalkan kemegahan dunia dan hanya mengabdikan diri untuk akhiratnya.

C. SUMBER-SUMBER TASAWUF

Ada kelompok yg berpendapat bahwa tasawuf berakar dari luar ajaran Islam seperti ; Majusi atau Hindu, Kristen atau Yunani, Atau campuran dari agama-agama tersebut.
Taswauf bersumber dari Yunani
Teori ini mengandung banyak kelemahan serta bertentangan dengan realitas sejarah. Pertama: Tasawuf Islam telah berkembang sebelum ajaran dan pemikiran agama hindu merasuki masyarakat muslim. Selain itu, tasawuf Islam lahir sebelum munculnya satu-satunya referensi tentang akidah agama hindu. Referensi itu adalah sebuah buku yg ditulis oleh Abu Ar-Raihan Al-Biruni (315H-440H) dengan judul Tahqiq Ma lil Hindi min Maqulah Maqbulah fil `Aqli Au Marzulah. Kedua: Dari referensi tersebut Al-Biruni tidak menyebutkan adanya hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi.
Oleh karena itu, tidak ada sandaran dan landasan historis yg memperkuat tentang teori tersebut yg mengatakan tasawuf bersumber dari yunani. (Tarikh At-Tashawwuf Al-Islami, lihat juga Dr. Jamil Muhammad Abul `Ala, At-Tasawwuf Al-Islami Nasy`atuh wa Tathawwuruh)
Tasawuf bersumber dari Persia
Sejarah membuktikan adanya hubungan Arab-Persia. Namun demikian, kita tidak mendapatkan keterangan yg jelas yg membuktikan adanya transmisi agama majusi dan filsafat Persia dari bangsa Persia ke bangsa Arab melalui hubungan tadi. Tidak ada argumentasi yg memungkinkan kita untuk membuat kesimpulan “bahwa tasawuf secara spesifik adalah salah satu pengaruh dan buah dari hubungan antara bangsa Arab dengan bangsa Persia”.(AL-Hayah Ar-Ruhiyah fil Islam) Jika ada orang yg mengatakan bahwa ajaran tasawuf bersumber dari Persia akibat terpengaruhnya para syeikh sufi pada Persia, maka berarti orang tersebut tidak memahami sejarah, dan pendapatnya itu bertentangan dengan kaidah ilmiah.
Selain itu, fakta menyatakan besarnya pengaruh para sufi terhadap para sufi Persia. Sebut saja Muhyiddin Ibnu Arabi (wafat 638H) Tokoh sufi ini sangat berpengaruh terhadap sejumlah besar  tokoh sufi Persia semisal Al-Iraqi (wafat 686H) dan AL-Kirmani (wafat 698 H)
Tasawuf bersumber dari Filsafat Yunani
Sejarah membuktikan bahwa pemikiran Arab dan Yunani baru mengalami persinggungan setelah adanya kegiatan penerjemahan literature-literatur Yunani kuno ke dalam Bahasa Arab. Sementara Kegiatan penerjemahan ini baru dilakukan setelah tasawuf tumbuh dan berkembang pesat. Hal ini membuktikan bahwa pada fase-fase pertamanya tasawuf bersih dari pengaruh yunani.
Tasawuf bersumber dari Kristen
Pendapat para peneliti diatas pun tidak benar karena para sufi dan zahid yg terpengaruh ajaran Kristen muncul belakangan, jauh hari setelah kemunculan tasawuf itu sendiri. Anggapan sebagian orientalis yg mengatakan bahwa pola hidup miskin, sikap zuhud, dan zikir yang dilakukan para sufi diadaptasi dari Kristen juga salah. Karena banyak sekali ayat Al-Qur`an dan Sunnah Nabi yg menyeru ummatnya untuk berprilaku zuhud dan tidak cenderung pada dunia dan kenikmatannya. Banyak pula ayat dan hadits yg memotivasi umat untuk berzikir. Semua ini menegaskan bahwa praktek sufi tersebut mempunyai sumber yg orisinil dalam Islam.
Kesimpulannya. Setiap pendapat tentang keterpengaruhan tasawuf oleh unsur diluar Islam tidak tepat dan tidak didukung oleh dikumen atau teks yg diketahui khalayak ramai. Oleh karena itu, maka pendapat tersebut hanya terbatas pada masa paska tahun 1920M. Bahkan, sebagian orang yg berpendapat demikian mulai mencabut pendapatnya (Tarikh At-Thasawwuf Al-Islami).
Akhirnya, para zuhud dan sufi generasi pertama adalah orang-orang yg bersih jiwanya dan cerah hatinya, bersih nuraninya dan mampu menyingkap hakikat. Mereka melakukan seperti apa yg dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti zuhud, wara`, takwa, dan ibadah berkesinambungan. Keterpengaruhan mereka pada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam (bukan pada agama dan filsafat lain) itulah yg mengantarkan mereka menjadi manusia sufi dan zahid.
Tasawuf bersumber dari Islam
Ada kelompok yang mengatakan bahwa tasawuf bersumber dari ajaran Islam. Inilah pendapat yang paling benar. Karena, dasar-dasar akidah dan perilaku tasawuf bersumber dari teks-teks Alqur`an dan As-Sunnah, dan kehidupan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau. Para zuhud menyandarkan kegiatan zuhudnya dari sumber-sumber Islam tersebut, demikian juga para sufi yg menempuh jalan yg lurus.
Dari Al-Quran:
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yg sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-`Ankabut:64). Lihat pula  Al-Hadid:20-21 Ali-Imran:191 -         Thaha:130 l-Hujurat:13. Dalam banyak ayatnya, Al-Qur`an memotifasi untuk hidup zuhud dan mewaspadai sikap cinta dunia dan kemerlapannya. Orang yg membaca Al-Qur`an secara jeli akan menjumpai ayat-ayat yg membuka pintu zikir, introspeksi diri, ibadah dan bangun malam bagi para ahli ibadah. Al-Qur`an juga berbicara tentang muraqabah, taubat, takut (khauf) pada Allah, harapan (raja`) pada Allah, syukur, tawakal, serta sabar. Al-Qur`an penuh dengan anjuran untuk mengamalkan sifat terpuji. Maka karena itu, para sufi berupaya memperindah diri dengan sifat-sifat terpuji. Dan mengambil materi pertamanya dan makanan rohani mereka dari Kitabullah.
Hadits Qudsi dan Hadits Nabi: Abuhurairah r.a. berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Allah Azza Wajalla berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hambaKu dan Aku selalu bersamanya tatkala ia mengingatKu. Jika hambaKu mengingatKu dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diriKu. Dan, jika ia menyebutKu dihadapan orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di hadapan orang banyak yg lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta. Jika ia mendekat padaKu sehasta maka aku akan mendekat padanya satu depa. Jika dia  padaKu dengan berjalan, maka Aku akan datang padanya dengan berlari. (H.R. Muslim)
“Bersikap zuhudlah pada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, Bersikap zuhudlah dari segala apa yg dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu!.” (H.R. Ibnu Majah)
“Jadilah engkau didunia ini laksana orang asing atau orang yg sedang menyeberang jalan.” (H.R. Al-Bukhari)
Malaikat Jibril bertanya pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang
Ihsan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab:
“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya; dan jika engkau tidak melihatNya. Maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. AL-Bukhari)






BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1.Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti bersih. Dinamakan shufi karena hatinya tulus dan bersih di hadapan Tuhannya. Teori lain mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata Shuffah yang berarti serambi Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin.
2.Kehidupan Rasulullah Saw. dan Tahanutsnya di Gua Hira merupakan cahaya pertama dan utama dalam perkembangan tasawuf selanjutnya
3. Sumber tasawuf :
1. Dari Yunani
2. Dari Persia
3. Dari Kristen
4. Dari Filsafat Yunani
5. Dari Islam











DAFTAR PUSTAKA



Al-Kalabadzi, al-Ta’arruf li Madzhab ahl al-Tashawuf (al-Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyyah, Cairo, 1969) h. 28
Ibrahim Basuni, Nasy’ah al-Tashawuf al-Islami, Juz III (Dar al-Maarif, Mesir, 1119), h. 9
Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filasafat dan Tawawuf (Dirasah Islamiyah IV)(Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 153
Al-Ustadz Abdullah Taslim, Hakikat Tasawuf , Lc. (Mahasiswa S2 Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah).